Jumat, 29 Mei 2009

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Matthew Arnlold menggunakan istilah sastra bandingan pertama kali dalam bahasa Inggris, ketika menerjemahkan istilah J.J Ampere Histoire Comparative (1984). Ilmuwan Perancis lebih suka memakai istilah yang dipakai lebih awal oleh A.F. Villemain yang menyebutnya literature compare (1829), yang analogi dengan istilah cuvier anatomi compare (1800). Ilmuwan Jerman mengenal Vergleichende Literaturgesichte. Tapi tak satu pun dari adjektif yang berbeda-beda ini membantu menjelaskan persoalan. Perbandingan adalah metode yang umum dipakai dalam semua kritik sastra dan cabang ilmu pengetahuan, dan sama sekali tidak menggambarkan kekhasan prosedur studi sastra.
Sastra bandingan adalah kajian yang menekankan pada relasi diantara karya sastra yang berbeda budaya. Mazhab Perancis menyebutkan bahwa ahli sastra bandingan berusaha meneliti karya sastra dengan membandingkannya dengan karya sastra lain dengan mempertimbangkan aspek linguistik, pertukaran tema, gagasan, dan nasionalisme. Perancis lebih menekankan pada perbandingan sastra dengan sastra nasional yang didasarkan pada aspek intrinsik. Mazhab Amerika berbeda dengan mazhab Perancis. Mazhab Amerika memiliki cakupan yang lebih luas seperti yang dikemukakan oleh Hendry Remarak (1971), bahwa studi karya bandingan merupakan karya sastra antarnegara, bangsa di satu pihak dan studi bandingan antarbidang di pihak lain. Mazhab ini mengkritik tolok ukur sastra nasional, seperti yang dikemukakan mazhab Perancis, bahwa sastra nasional lebih sempit, oleh karena itu mazhab Amerika cenderung melihatnya sebagai tolak ukur yang bersifat kultural. Perbedaan budaya dan bahasa sudah cukup bagi mazhab ini untuk melaksanakan suatu perbandingan.
Istilah sastra bandingan dalam prakteknya menyangkut bidang studi dan masalah lain. Pertama, istilah ini dipakai untuk studi sastra lisan. Kedua, istilah sastra bandingan mencakup studi hubungan antara dua kesusastraan atau lebih. Ketiga, istilah sastra bandingan disamakan dengan studi sastra menyeluruh, jadi sama dengan sastra dunia, sastra umum, atau sastra universal.
Studi sastra bandingan umumnya berbicara mengenai relasi di antara dua buah karya sastra yang berbeda tetapi memiliki kesejajaran baik dari segi isi maupun bentuk.
Dalam telaah bandingan antara karya sastra nasional yang berjudul Salah Asuhan dengan nusantara yang berjudul Malin Kundang, akan dibahas satu aspek dari kedua cerita tersebut, yaitu tentang motif persamaan yang dimiliki oleh tokoh utama dan tokoh-tokoh lain (ibu dari tokoh utama) pada masing-masing cerita.
Malin Kundang adalah cerita yang berasal dari provinsi Sumatra Barat, Indonesia. Legenda Malin Kundang berkisah tentang seorang anak yang durhaka pada ibunya karena itu ia dikutuk menjadi batu. Sebentuk batu di pantai Air Manis, Padang, konon merupakan sisa-sisa kapal Malin Kundang. Karena kepopulerannya kisah Malin Kundang berkali-kali diolah dalam berbagai bentuk, baik cerpen, drama, dan sinetron. Karya-karya adaptasi ini sangat beragam.
Roman Salah Asuhan (1928) buah tangan Abdul Muis merupakan satu roman yang lahir pada angkatan 20-an. Roman ini banyak mendapat perhatian dari kalangan sastrawan. Roman yang berlatar belakang adat istiadat Minangkabau ini ditulis oleh Abdul Muis. Pertama kali terbit pada tahun 1928 dan diterbitkan oleh Balai Pustaka (BP).
Dalam telaah bandingan novel Madame Bovary (1857) karya novelis Perancis, Gustave Flaubert, dan Belenggu (1940) karya Armijn Pane akan dibahas satu aspek dari kedua novel itu, yaitu penokohan protagonis wanita. Novel yang berjudul Madame terbit pada tahun 1857 dan merupakan roman realis pertama pada zamannya yang ditulis dengan sangat rinci dan mendetail. Waktu menulis karyanya, penulis mendapat inspirasi dari suatu kejadian yang benar-benar terjadi dan yang dilukiskannya dengan sangat rinci mendekati penulisan ilmiah.
Sedangkan novel Belenggu yang terbit pada tahun 1940 merupakan pelopor roman realis di Indonesia. Di Indonesia , novel Belenggu sangat berarti karena, novel ini dapat membangun semangat baru Indonesia, khususnya dalam karya sastra. Novel belenggu mecoba mendeskripsikan kehidupan yang sebenarnya dan dalam novel-novel sebelumnya tak pernah dilakukan oleh para pengarang Balai Pustaka. Para pengarang Balai Pustaka lebih sering menggambarkan masyarakat yang seharusnya bagaimana, jadi roman mereka bersifat didaktis. Adapun Belenggu menyiratkan realisme karena kehidupan dilukiskan seperti halnya kehidupan itu sendiri.
Kedua novel tersebut mempunyai keterkaitan dalam tema ceritanya, yaitu sama-sama mengalami keretakan rumah tangga suatu keluarga dokter, kedua-duanya merupakan roman realis yang menjadi pelopor pada zamannya masing-masing.

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, rumusan masalahnya adalah sebagi berikut,
1. Bagaimanakah perbandingan cerita Malin Kundang dan Salah Asuhan apabila dilihat dari persamaan motifnya?
2. Bagaimanakah perbandingan karya sastra terjemahan (Madame Bovary) dengan karya sastra nasional (Belenggu) apabila dilihat dari segi unsur intrinsik tokoh protagonisnya?

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui persamaan motif yang terdapat dalam cerita bercorak nusantara (Malin Kundang) dan cerita bercorak nasional (Salah Asuhan).
2. Untuk mengetahui perbandingan karya sastra terjemahan ( Madame Bovary) dan karya sastra nasional (Belenggu) dari segi unsur intrinsik tokoh protagonis.





1.4 Manfaat
Studi perbandingan ini diharapkan dapat menambah pengetahuan para pembacanya tentang karya sastra. Serta agar pembaca dapat mengerti perbandingan antara dua karya sastra yang berbeda yaitu karya cerita bercorak nusantara (Malin Kundang) dengan cerita bercorak nasional (Salah Asuhan) yang dilihat dari persamaan motif dan karya sastra terjemahan ( Madame Bovary) dengan karya sastra nasional (Belenggu) yang dilihat dari persamaan tokoh protagonisnya.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Cerita Bercorak Sastra Nasional (Salah asuhan) Dan Nusantara (Malin Kundang)
Perbandingan ini mengungkapkan kesamaan motif cerita rakyat Malin Kundang dengan novel Salah Asuhan karya Abdoel Moeis.
Malin Kundang mengisahkan kedurhakaan tokoh Malin Kundang yang tidak mau mengakui ibunya yang berpakaian compang-camping. Waktu itu datanglah kapal yang megah dan bertingkat-tingkat. Ketika kapal mulai merapat, tampak seorang muda-mudi berdiri di anjungan. Orang kampung menyambut dengan gembira. Mande Rubayah, ibu Malin mendekati kapal, dan dia yakin bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya. Ia langsung memeluk Malin erat-erat. Malin terpana karena dipelukw anita tua renta yang berpakaian compang-camping. Ia tak percaya bahwa itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya ke mana saja. Sebelum dia berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?” Lalu dia meludah lagi, “Bukankah dulu kau katakan ibumu adalah seorang bangsawan sederajat dengan kami?” Mendengar perkataan istrinya, Malin mendorong ibunya hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya dengan perlakuan anaknya.
Demikian pula, novel Salah Asuhan mengisahkan Hanafi yang tidak hendak mengakui dirinya sebagai orang Minangkabau, orang Indonesia, bahkan dia meresmikan dirinya sebagai orang Belanda. Hal ini terbukti ketika Hanafi sedang berusaha keras untuk memperoleh Corrie. Untuk mencapai tujuannya dia segera mengurus surat-surat untuk memperoleh haknya sebagai orang Balanda. Sedangkan sifat durhaka pada ibunya, adalah ketika ia mengurus surat-surat untuk mendapatkan prsamaan hak agar dia menikah dengan Corrie. Sebelum itu sebagai surat permulaan dan penghabisan kepada ibunya ia menyertakan juga surat talak kepada Rapiah. Perasaan ibunya dan Rapiah sangat sakit.
Kedurhakaan Hanafi terhadap Ibu Pertiwi, tanah airnya, kampung halamannya, dan ibunya sendiri, merupakan motif yang sama dengan motif perilaku Malin Kundang.
Di samping itu, ada pula motif yang sama antara Malin Kundang dan Salah Asuhan, yaitu tokohnya (Malin Kundang dan Hanafi) sejak kecil atau ketika masih muda hingga dewasa berada di tanah perantauan. Malin Kundang yang sudah ditinggal mati oleh ayahnya merantau dalam usaha mencari harta sedangkan Hanafi merantau dalam usaha mencari ilmu walaupun dalam masalah biaya ibunya harus minta bantuan kepaa mamaknya Sutan Batuah.
Kemudian, motif yang sama juga terlihat pula pada motif percintaan. Baik Malin Kundang maupun Hanafi, keduanya mencintai orang yang berada di luar Minangkabau. Malin Kundang menikah dengan seorang gadis cantik putri seorang bangsawan kaya raya. Sedangkan Hanafi jatuh hati kepada salah seorang gadis Eropa bernama Corrie. Corrie adalah seorang gadis Indo Perancis-Belanda. Mereka memang akrab. Namun Corrie tidak mencintai Hanafi. Sewaktu Hanafi mengungkapkan isi hatinya pada Corrie, Corrie menolaknya secara halus. Corrie tidak mungkin berhubungan dengan Hanafi karena adanya perbedaan latar belakang budaya mereka.
Motif lain yang sama adalah sifat tokoh-tokohnya, seperti ibu Malin Kundang dengan ibu Hanafi yang keduanya sangat menyayangi anaknya. Hal ini trelihat dalam cerita Malin Kundang bahwa, Malin sangat disayang oleh Mande Rubayah ibunya, karena sejak kecil dia telah ditinggal mati oleh ayahnya. Pada suatu hari Malin sakit, tubuhnya mendadak panas sekali. Ibunya berusaha kuat untuk mengobati Malin dengan mendatangankan tabib. Nyawa Malin yang hampir melayang akhirnya dapat diselamatkan berkat usaha keras ibunya. Setelah sembuh dari sakitnya, Malin makin disayang. Demikianlah Mande Rubayah sangat menyayangi anaknya. Daalm Salah Asuhan, Hanafi yang sangat disayang oleh ibunya terbukti ketika Ibu Hanafi menginginkan anaknya menjadi orang pandai. Dan dia bermaksud menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya. Adapun masalah biayanya, ibu Hanafi harus minta bantuan kepada mamaknya Sutan Batuah.



Sastra Terjemahan dan Sastra Nasional
Penokohan Protagonis Wanita
Emma Bovary sebagai protagonis wanita dalam Madame Bovary menarik untuk dibandingkan dengan protagonis wanita dalam Belenggu, Tini. Kedua-duanya mempunyai kemiripan ciri-ciri fisik, yaitu muda, ramping, dan cantik. Sikap batin kedua-duanya juga sama, yaitu wanita yang resah dan tidak betah tinggal di rumah. Emma Bovary menyalurkan keresahannya melalui kegiatan yang negatif. Impiannya yang romatis menjadikannya seorang wanita pengkhayal yang tak berpijak pada kenyataan, ia menyeleweng untuk memuaskan iampiannya yang tak terlaksana. Ketika kekecewaan demi kekecewaan melanda hidupnya, ia bunuh diri. Ia menunjukkan wataknya tang lemah.
Sedangkan Tini menyalurkan keresahannya secara positif dengan berperan aktif dalam kegiatan sosial. Sikapnya yang mandiri mempengaruhi sikap suaminya. Ia tak mau tunduk terhadap keinginan suaminya yang ingin diperlakukan sebagai seorang suami tradisional. Berbeda dengan Emma, Tini berwatak tegas. Ia tahu apa yang diinginkannya.
Sebetulnya dalam Belenggu ada protagonis wanita lainnya, yaitu Yah. Karena ia tak memiliki kemiripan ciri lahir dan batin seperti Emma Bovary, maka telaah bandingan hanya dibatasi oleh Tini saja.
Dalam buku yang berjudul Memahami Cerita Rekaan, Panuti Sudjiman menyatakan bahwa, karena tokoh-tokoh itu rekaan pengarang, hanya pengaranglah yang mengenal mereka. Maka tokoh-tokoh perlu digambarkan ciri-ciri lahir serta sikap batinnya agar wataknya juga dikenal oleh pembaca. Yang dimaksud dengan watak adalah kualitas tokoh, kualitas nalar dan jiwanya yang membedakannya dengan tokoh lain.penyajian watak tokoh dan penciptaan citra tokoh ini disebut penokohan.
Penokohan Emma Bovary
Emma Bovary adalah seorang wanita muda yang cantik. Suaminya Charles sangat memujanya (Mulai saat ini, untuk seumur hidupnya, wanita yang cantik dan sangat dipujanya ini menjadi miliknya).
Sejak remaja, Emma Bovary senang membaca. Buku-buku yang dibacanya kebanyakan mengandung hal-hal yang romantis yang membuatnya berkhayal (Selama enam bulan, ketika Emma berumur lima belas tahun, tangannya penuh debu karena ia sering mengunjungi ruang baca yang penuh buku-buku tua. Setelah membaca buku-buku karya Walter Scott, Emma terkesima oleh kejadian-kejadian yang terjadi dalam sejarah. Ia berkhayal bahwa ia mengunjungi negeri-negeri jauh. Ia berkhayal mengenai penjaga puri dan para penyanyi serta penyaji cerita keliling. Ia ingin tinggal di suatu puri tua seperti halnya para putri yang mengenakan gaun panjang dan yang menanti pria pujaan mereka di jendela puri yang bepigura tanaman rambat. Dengan tangan menopang dagu, para putri menanti pangeran pujaan mereka yang menghampiri puri dengan menunggang kuda hitam dan mengenakan topi berbulu putih).
Setelah menjadi dewasa dan kemudian menikah, Emma tak berubah. Ia tetap saja sentimental dan emosional (Semua hal yang tak menyentuh emosinya, dihindari. Hal ini sesuai dengan sifatnya yang lebih sentimental daripada artistik. Emma lebih mencari hal-hal yang dapat menimbulkan emosi daripada mencari pemandangan untuk dilukis).
Setelah ia menikah, sifat sentimental dan emosionalnya makin menjadi-jadi karena suaminya tak berhasil menjadi orang terkenal. Emma berkhayal ingin menjadi orang terkenal di seluruh Prancis (Ia ingin agar nama Bovary yang disandangnya menjadi terkenal dan tertera di buku-buku yang dijual di toko-toko buku. Ia menginginkan namanya disebut-sebut di surat-surat kabar dan terkenal di seluruh Prancis).
Karena suaminya tak memenuhi harapannya, Emma menjadi pelamun. Ia menjadi muak dengan kehidupan rutin sebagai seorang istri yang harus dijalaninya setiap hari (Kehidupan rumah tangga yang biasa-biasa saja dan membosankan mendorongnya untuk berkhayal mengenai hal-hal yang bukan-bukan. Hubungan suami istri tak dihargainya lagi dan ia berkhayal mengenai penyelewengan).
Khayalannya menjadi kenyataan ketika ia mempunyai kekasih (Berulang-ulang ia berkata pada dirinya: “Akhirnya aku mempunyai kekasih! Kekasih!” kenyataan ini membuatnya senang seolah-olah ia mengalami masa pubertas lagi. Akhirnya ia dapat memiliki kesenangang yang ditimbulkan oleh cinta, kebahagiaan yang hangat yang telah lama dinanti-nantikannya).
Tetapi Emma yang selalu resah tak menemukan kebahagiaan penyelewengannya, baik Rodolphe maupun Leon tak dapat membahagiakannya (Dalam penyelewengan-penyelewengan yang ia lakukan, ia menemukan kembali kehidupan perkawinan yang membosankan).
Karena merasa tertekan, kecewa tehadap kehidupan ini, ia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya saja (Rasa-rasanya ia tak ingin hidup lagi, ia ingin tidur untuk selama-selamanya. Semua sudah berlalu, pikirnya. Segala pengkhianatan, segala hal-hal merendahkan yang pernah dilakukannya, juga keinginan-keinginan yang tak pernah terlaksana dan yang begitu menyiksanya).
Akhirnya Emma bunuh diri dengan menelan racun (Ah: ternyata kematian itu biasa-biasa saja, pikirnya. Saya akan tidur dan semuanya akan berakhir).
Dari contoh-contoh kutipan di atas dapat melihat bagaimana perkembangan watak dari tokoh Emma Bovary. Sejak awal ia adalah seorang wanita yang lemah mentalnya. Ia pengkhayal, sentimental, dan emosional. Setelah menikah, sifatnya tak berbah, bahkan makin menjadi-jadi. Sifatnya yang labil, selalu resah membawanya pada kematian yang dirasanya sebagai jalan yang terbaik bagi hidupnya yang menurutnya penuh kekecewaan.
Penokohan Tini
Tokoh Tini dalam Belenggu adalah seorang wanita muda, yang ramping, dan cantik (Alangkah cantiknya, ramping langsir, sikapnya menantang demikian).
Ia sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial yang banyak menyita waktunya. Sifatnya yang tak bisa diam, membuatnya tak betah tinggal di rumah, menunggu suami seperti layaknya seorang istri yang tradisional (Tini tertawa: “Saya terlalu modern!” ….. aku berhak juga menyenangkan pikiranku, menggembirakan hatiku. Aku manusia juga yang berkemauan sendiri. “Bukanlah lelaki juga pergi sendirian? Mengapa aku tidak boleh? Apakah bedanya?)
Tini menyesalkan suaminya, Sukartono yang mengiginkan seorang istri yang tradisional (Engkau boleh keluar, mengapa aku tidak? Apa bedanya engkau dan aku? Mestikah aku diam-diam menjadi nona penjaga telepon dekat-dekat telepon? Aku kawin bukan hendak menjadi budak suruhanmu menjaga telepon…)
Sebagai seorang istri, Tini tak memperhatikan suaminya. Ia begitu sibuk dengan organisasinya (Tini tiada melihat perubahan keadaan Tono. Tiada sempat, karena sibuk dengan perkumpulan. Ada-ada saja pekerjaan untuk perkumpulan. Dia tidak menolak, ketika dalam rapat dia diusulkan menjadi utusan. Usul itu diterima dengan suara bulat. Dia merasa senang pergi).
Karena terlalu sibuk, jarang bertemu dengan suaminya cintanya pada suaminya mulai surut (Cinta? Aku cinta? Hatiku cinta? Semua perasaan sudah mati dalam hatiku, hatiku seolah-olah kuburan).
Sikap batinnya yang mandiri, tak mau menggantungkan diri pada seseorang membuatnya bertekad untuk meningglakan suaminya dan mencari pekerjaan di kota lain (“Jangan harap aku kembali. Sudah ada peganganku.”).
Sifat mandirinya akhirnya memenangkan pergulatan batinnya ketika ia akan memutuskan untuk meninggalkan suaminya, rumahnya. Sikap bangga akan harga dirinya sebagai wanita yang tak mau takluk pada laki-laki memperteguh keputusannya untuk pergi, meninggalkan semua yang pernah dicintainya.
Penutup

Simpulan
Dalam cerita salah asuhan dan malin kundang, tokoh utamanya memiliki sifat kedurhakaan yang berakhir dengan penyesalan. Begitu juga dalam masalah percintaan, mereka sama-sama mencintai orang-orang di luar Minangkabau. Selain motif tersebut terdapat juga dalam tokoh-tokoh yang lainnya, yaitu Mande Rubayah ibu Hanafi dan Malin Kundang yang sangat mencintai anaknya.
Sedangkan dalam karya sastra asing dan nasional, yang dbandingkan adalah tokoh protagonist wanita. Meskipun Emma Bovary dan Tini terpisah oleh jarak, ruang, dan waktu, kedua-duanya bisa dikatakan memiliki tipe wanita yang universal.
Emma Bovary dengan keresahannya sebagi seorang istri yang tak puas terhadap suaminya dan kemudian terjerumus dalam kelakuan negative, merupakan gambaran wanita yang ada di mana-mana. Tini sebagai wanita mandiri, aktif, tak mau tunduk pada kemauan laki-laki melambangkan citra wanita mandiri yang universal. Wanita yang resah seperti Tini, juga tredapat di mana-mana. Bedanya dneagn Emma Bovary yang hidup pada abad ke-19, Tini dapat menyalurkan keresahannya melalui kegiatan positif dengan melakukan berbagai kegiatan sosial.
Keresahan yang dirasakan oleh kedua wanita itu menyebabkan mereka meninggalkan keluarga. Emma bunuh diri dan Tini pergi ke kota lain untuk mencari ketenangan.
Saran
Membandingkan dua karya sastra dalam studi perbandingan sangatlah bermanfaat bagi diri kita. Karena dengan membandingkannya, kita akan mengerti tentang suatu karya sastra beserta unsur-unsurnya.
Dengan melihat hasil perbandingan karya sastra di atas, kita sebagai manusia seharusnya janganlah besikap durhaka kepada siapa pun, karena dengan sifat tersebut hanyalah akan tumbuh rasa penyesalan dalam diri kita, yang tidak ada gunanya. Rasa egois yang masih ada dalam benak diri kita masing-masing hendaklah ditiadakan, karena hanya akan merugikan orang lain, karena dalam diri manusia yang sebenarnya rasa saling menyayangi adalah kunci utama dalam mencari kebahagiaan.

RINGKASAN CERITA
Novel Madame Bovary
Novel Madame mengisahkan seorang wanita muda dan cantik yang tak puas akan status sosialnya sebaga istri dokter desa Charles Bovary. Charles adalah seorang pria yang sederhana yang memiliki kemampuan yang sederhana pula. Istrinya bernama Emma. Emma menginginkan seorang suami dengan kedudukan sosial yang tinggi, kaya, terkenal. Dan dikagumi orang. Wanita ini sangat terpengaruh oleh imiannya yang romantis (impian atau imajinasi akan suatu keadaan yang muluk-uluk yang tak berpijk pada kenyataan. Karena kesal pada suaminya yang lama-kelamaan dianggapnya sebagai seorang yang sedang-sedang saja kemampuannya, tapa prstasi, Emma kemudian menyeleweng dengan seorang pria kaya yang bernama Rodolphe. Setelah ditinggal Rodolphe, ia mengalihkan perhatiannya pada Leon Dupuis, seorang calon pengacara. Selama bergaul dengan Leon, Emma tak dapat membendung keinginannya untuk membeli barang-barang mewah. Karena uang belanja yang diterima dari suaminya tak cukup untuk memenuhi keinginannya yang serba mewah itu, ia terpaksa berhutang pada rentenir. Akhirnya Leon meninggalkannya juga. Karena kecewa dan dililit hutang Emma bunuh diri dengan menelan racun tikus. Tak lama kemudian, Charles Bovary menyusul juga.
Belenggu
Belenggu juga mengisahkan keretakan kehidupan perkawinan suatu keluarga dokter. Berbeda dengan Charles Bovary, Sukartono adalah seorang dokter yang berhasil. Pasiennya banyak. Keberhasilan dalam profesinya sebagai dokter tak sejalan dengan kehidupan perkawinannya yang taka bahagia. Antara Sukartono dan istrinya, Tini, tidak ada saling pengertian. Tini seorang wanita cantik dan ramping. Ia aktif dalam kegiatan social. Kegiatan social yang dilakukannya menyita banyak waktu sehingga ia sering tak berada di rumah. Sukartono adalah seorang suami yang mempunyai pandangantradisioanl. Ia tak dapat mengerti kelakuan istrinya yang menurutnya terlalu modern. Ia menginginka seorang istri yang selalu berada id rumah apabila ia pulang dari menjenguk pasien-pasiennya. Ia mendambakan seorang istri yang membukakan sepatunya dan memakaikan sandalnya apabila ia tiba di rumah. Impiannya terlaksana ketika ia berjumpa dengan Yah, seorang penyanyi dan bekas penghibur yang kemudian menjadi wanita sampingannya. Pada akhir cerita Tini dan Yah meninggalkan Sukartono. Tini pergi ke Surabaya untuk mencari ketenangan batin dan bekerja sebagai kepala suatu panti asuhan. Adapun Yah pergi ke Kaledonia Baru untuk memulai kehidupan yang baru.

Malin kundang
Malin termasuk anak yang cerdas tetapi sedikit nakal. Ia sering mengejar ayam dan memukulnya dengan sapu. Suatu hari ketika Malin sedang mengejar ayam, ia tersandung batu dan lengan kanannya luka terkena batu. Luka tersebut menjadi berbekas dilengannya dan tidak bisa hilang.
Karena merasa kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. Malin memutuskan untuk pergi merantau agar dapat menjadi kaya raya setelah kembali ke kampung halaman kelak. Awalnya Ibu Malin Kundang kurang setuju, mengingat suaminya juga tidak pernah kembali setelah pergi merantau tetapi Malin tetap bersikeras sehingga akhirnya dia rela melepas Malin pergi merantau dengan menumpang kapal seorang saudagar.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba kapal yang dinaiki Malin Kundang di serang oleh bajak laut. Semua barang dagangan para pedagang yang berada di kapal dirampas oleh bajak laut. Bahkan sebagian besar awak kapal dan orang yang berada di kapal tersebut dibunuh oleh para bajak laut. Malin Kundang beruntung, Dia sempat bersembunyi di sebuah ruang kecil yang tertutup oleh kayu sehingga tidak dibunuh oleh para bajak laut.
Malin Kundang terkatung-katung ditengah laut, hingga akhirnya kapal yang ditumpanginya terdampar di sebuah pantai. Dengan tenaga yang tersisa, Malin Kundang berjalan menuju ke desa yang terdekat dari pantai. Desa tempat Malin terdampar adalah desa yang sangat subur. Dengan keuletan dan kegigihannya dalam bekerja, Malin lama kelamaan berhasil menjadi seorang yang kaya raya. Ia memiliki banyak kapal dagang dengan anak buah yang jumlahnya lebih dari 100 orang. Setelah menjadi kaya raya, Malin Kundang mempersunting seorang gadis untuk menjadi istrinya.
Berita Malin Kundang yang telah menjadi kaya raya dan telah menikah sampai juga kepada ibu Malin Kundang. Ibu Malin Kundang merasa bersyukur dan sangat gembira anaknya telah berhasil. Sejak saat itu, ibu Malin setiap hari pergi ke dermaga, menantikan anaknya yang mungkin pulang ke kampung halamannya.
Setelah beberapa lama menikah, Malin dan istrinya melakukan pelayaran disertai anak buah kapal serta pengawalnya yang banyak. Ibu Malin yang melihat kedatangan kapal itu ke dermaga melihat ada dua orang yang sedang berdiri di atas geladak kapal. Ia yakin kalau yang sedang berdiri itu adalah anaknya Malin Kundang beserta istrinya.
Ibu Malin pun menuju ke arah kapal. Setelah cukup dekat, ibunya melihat belas luka dilengan kanan orang tersebut, semakin yakinlah ibunya bahwa yang ia dekati adalah Malin Kundang. "Malin Kundang, anakku, mengapa kau pergi begitu lama tanpa mengirimkan kabar?", katanya sambil memeluk Malin Kundang. Tetapi melihat wanita tua yang berpakaian lusuh dan kotor memeluknya Malin Kundang menjadi marah meskipun ia mengetahui bahwa wanita tua itu adalah ibunya, karena dia malu bila hal ini diketahui oleh istrinya dan juga anak buahnya.
Mendapat perlakukan seperti itu dari anaknya ibu Malin Kundang sangat marah. Ia tidak menduga anaknya menjadi anak durhaka. Karena kemarahannya yang memuncak, ibu Malin menyumpah anaknya "Oh Tuhan, kalau benar ia anakku, aku sumpahi dia menjadi sebuah batu".
Tidak berapa lama kemudian Malin Kundang kembali pergi berlayar dan di tengah perjalanan datang badai dahsyat menghancurkan kapal Malin Kundang. Setelah itu tubuh Malin Kundang perlahan menjadi kaku dan lama-kelamaan akhirnya berbentuk menjadi sebuah batu karang.
Salah asuhan
Setelah Hanafi tamat HBS Jakarta, ia bekerja di kantor Asisten Residen di Solok. Ia tinggal bersama-sama dengan ibunya. Biasanya dalam liburan, Corrie teman Hanafi sepermainan semasa anak-anak pulang ke rumahnya di Solok. Hanya pada waktu sajalah ia dapat bertemu dnegan Hanafi yang dianggapnya sebagai kakaknya sendiri. Tetapi di pihak Hanafi, pergaulan seadik sekakak itu berganti dengan sifat cinta yang tak terbalas. Corrie dan ibu Hanafi sependirian, bahwa perkawinan campuran banyak sekali bahayanya.
Maksud ibunya, Hanafi akan dipertemukan dengan sepupunya sendiri, Rapiah. Perkawinan itu hanya akan membalas budi jasa Sutan Batuah, yang telah bersusah payah meyekolahkan Hanafi hingga tamat. Menikahlah Hanafi dengan Rapiah. Akhirnya lahirlah seorang anak yang dinamai Syafii. Setiap hari ia memarahi Rapiah, malahan Rapiah juga disiksa dan dianggap sebagai babunya..
Pada suatu waktu, atas adpis dokter, Hanafi harus berangkat ke Jakarta, untuk merawat jarinya yang digidit anjing gila. Di sana ia akan bertemu kembali dnegan Corrie. Api berahinya yang hamper padam, menyala kembali, karena di pihak Corrie sendiri agaknya sudah ada tanda-tanda, bahwa cintanya bebalas, walaupun hanya berdasarkan kasihan belaka. Itulah yang menyebabkan Hanafi akan menetap di Jakarta. Ia minta supaya diperhentikan dari pekerjaannya di Solok. Sebagai gantinya ia bekerja di Jakarta di kantor BB (Pangreh Raja), dengan gaji Rp. 300,- sebulan. Selain itu ia minta juga, agar hak-haknya disamakan dengan bangsa Belanda, sebab dengan persamaan hak itu akan terlaksanalah perkawinannya dengan Corrie. Sebelum itu sebagai surat permulaan dan penghabisan kepada ibunya ia menyertakan juga surat talak kepada Rapiah. Perkawinan Hanafi dengan Corrie dilangsungkan dibenci di Semarang. Rumah tangga Hanafi dengan istri Indo Perancis itu, makin lama makin kacau. Istrinya disangka berzina dengan orang lain. Karena malu dan benci pula pada Hanafi, dengan tuduhan yang tak terbukti itu Corrie pergi ke Semarang menolong Ny Van Demmemn di rumah piatu.
Beberapa hari kemudian Hanafi insaf, bahwa istrinya tidak bersalah. Oleh sebab itu ia mengejarnya ke Semarang untuk memulangi Corrie kembali. Sampai di sana, ia tak dapat bertemu dengan Corrie, karena penyakit kolera yang dideritanya. Ia meninggal. Sepeninggal Corrie, pikiran Hanafi makin kacau balau sehingga ia perlu dirawat di rumah sakit Paderi, rumah sakit jiwa. Beberapa hari kemudian, karena rindu kepada ibu dan tanah airnya, terpaksalah Hanafi pulang ke kampungnya di Sumatra.
Kebetulan sekali di Padang diadakan pasar malam. Untuk menghilangkan rindunya kepada Corrie, ia menonton pasar malam. Di sana ia bertemu dengan anaknya, Syafii, dengan tak tersangka-sangka sama sekali. Anak itu sedang minta balon-balon kepada bujangnya yang menggendongnya.
Sesudah Syafii ada dalam pelukannya, ia dapat mengetahui, bahwa ibunya masih selalu menanti-nantikannya. Sayang sekali dan terkejutlah ia, karena anak yang didukungnya itu ada yang merentakkannya dari belakang. Orang itu adalah Rapiah.
Keesokan harinya, kembalilah ia dengan ibunya ke Kota Anau, kampungnya. Pemandangan sekelilingnya yang menarik hatinya dahulu sudah tak menjadi perhatiannya sama sekali. Begitu juga ibunya, karena sudah berpisah dengan menantunya yang sangat dicintainya,
Ibunya bermaksud akan memulangkan Hanafi kepada Rapiah. Tetapi Hanafi menolaknya, karena ia sendiri tak mau menjilat air liurnya yang sudah diludahkan. Agaknya Hanafi sudah berputus asa akibat tindakannya sendiri. Ia bosan melihat orang-orang yang ada di sekelilingnya sehingga akhirnya ia menelan empat butir sublimate dan ajalnya sampai, karena tablet yang beracun itu.
Kata penghabisan yang disampaikannya kepada ibunya, sebelum ia meninggal dunia, adalah agar Syafii, anaknya dijaga baik-baik, sehingga dapat dan kelakuan ayahnya itu tak sampai turun kepadanya atau ditiru oleh Syafii.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar