Jumat, 29 Mei 2009

KEEFEKTIFAN PENGGUNAAN MEDIA AUDIO-VISUAL (VCD)
DALAM PEMBELAJARAN MENYIMAK DRAMA PADA SISWA SMK
Abstrak: Drama adalah bentuk karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan atau dialog. Menyimak adalah adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan. Dalam pembelajaran menyimak karya sastra, guru dituntut untuk menggunakan sebuah media karena agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai. Media merupakan salah satu sumber belajar yang dapat menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada para siswa. Salah satu media adalah media audio-visual (VCD). Media audiovisual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman yang meliputi media yang dapat dilihat, didengar, dan yang dapat dilihat serta didengar. Media audio-visual dalam wujud VCD merupakan suatu media yang dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efisien. Pembelajaran menyimak drama dengan menggunakan media audio-visual (VCD) pada siswa SMK merupakan salah satu cara yang dapat meningkatkan keterampilan menyimak karya sastra berbentuk drama. Karena pada saat ini dalam pembelajaran menyimak drama guru hanya meminta siswa untuk menyimak drama dari media yang berbentuk audio, sehingga terkesan membosankan.
Kata Kunci: menyimak, drama, media audio-visual (VCD).




PENDAHULUAN
Sastra merupakan hasil kreatifitas seseorang yang tidak hanya terwujud dalam keterampilan motorik ataupun kogisi melainkan suatu dorongan emosi yang didukung faktor-faktor eksternal. Sastra adalah kreatifitas manusia yang mempunyai budi yang terjabar dari rasa, karsa, dan cipta.
Menyimak dalam kehidupan sehari-hari sangatlah penting karena dapat memperoleh informasi untuk menambah wawasan dan pengetahuan. Begitu juga di sekolah, menyimak mempunyai peranan penting karena dengan menyimak siswa dapat menambah ilmu, menerima dan menghargai pendapat orang lain. Oleh sebab itu dalam pembelajaran menyimak memerlukan latihan-latihan yang intensif.
Dalam pembelajaran menyimak sastra, guru dituntut untuk selalu mengasah kemampuan siswa dalam menguasai karya sastra. Karena dengan karya sastra, siswa dapat mengambil amanat ataupun isi yang terdapat dalam karya sastra baik drama, cerpen, puisi, novel, atau pun karya sastra yang lain untuk diterapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk mencapai tujuan yang diharapkan tersebut tidak hanya dibutuhkan kompetensi guru yang memadai, tetapi harus didukung dengan media pembelajaran yang lengkap. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut seorang guru dituntut untuk menyediakan atau membuat media pembelajaran yang praktis dan mudah untuk digunakan dalam kegiatan belajar-mengajar.
Dalam kegiatan pembelajaran media merupakan salah satu sumber belajar yang dapat menyampaikan pesan-pesan pendidikan kepada para siswa baik dalam perbedaan gaya belajar, minat, intelegensi, keterbatasan indra, hambatan jarak dan waktu dan lain-lain yang dapat dibantu dengan memanfaatkan media. Oleh karena itu kehadiran media dalam pembelajaran tidak mungkin diabaikan. Apalagi dalam pembelajaran Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan kehadiran media sangat penting.
Dalam proses belajar mengajar, kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting karena pemanfaatan media sebagai perantara dapat memperjelas bahan atau materi pelajaran yang disampaikan guru yang sifatnya abstrak. Kerumitan atau kompleksitas bahan atau materi pelajaran yang akan disampaikan guru kepada peserta didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat membantu guru yang mengalami kesulitan untuk menjelaskan materi bahasan tertentu secara verbal (melalui kata-kata). Bahkan obyek bahasan yang tidak dapat dilihat secara kasat mata, terlalu mahal untuk dihadirkan ke dalam kelas, atau yang terlalu berbahaya untuk dibawa ke dalam kelas dimungkinkan untuk dipelajari peserta didik dengan bantuan media. Dengan demikian, peserta didik akan lebih mudah mencerna bahan atau materi pelajaran dengan bantuan media.
Media juga diperlukan untuk mengembangkan kemampuan bertanya siswa (questioning) dalam menggali informasi, mengecek pemahaman dan meningkatkan respon siswa.
Mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMK merupakan salah satu mata pelajaran wajib. Melalui penguasaan kompetensi mata pelajaran bahasa Indonesia, peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu agar mampu berkomunikasi bahasa Indonesia secara baik dan benar. Pada era global penggunaan bahasa secara baik dan benar merupakan syarat mutlak di dunia kerja.
Untuk menghadapi tantangan masa depan, kemampuan berkomunikasi menjadi salah satu syarat keberhasilan bekerja. Karena itu pelajaran Bahasa Indonesia dirancang, dikembangkan serta diarahkan untuk dapat mempersiapkan peserta didik mampu berkomunikasi di dunia kerja secara efisien dan efektif. Dengan keadaan yang seperti itu, seorang guru ketika mengajar dituntut untuk selalu kreatif agar tujuan pembelajaran dapat tercapai.
Penulis berharap dalam pembelajaran menyimak drama melalui media audio-visual (VCD) dapat menjadi pedoman bagi guru agar dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam proses belajar mengajar.

MENYIMAK
Menyimak adalah suatu proses kegiatan menyimak lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara melalui ujaran atau bahasa lisan (HG.Tarigan : 28).
Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan itu ada alasan tertentu mengapa yang bersangkutan menyimak. Alasan inilah yang kita sebut sebagai tujuan menyimak. Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan. Karena itu dapat disimpulkan bahwa tujuan utama menyimak adalah menangkap, memahami, atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.
Dalam peristiwa menyimak sudah ada faktor kesengajaan. Faktor pemahaman merupakan unsur utama dalam setiap peristiwa menyimak. Bila mendengar sudah tercakup dalam mendengarkan maka baik mendengar maupun mendengarkan sudah tercakup dalam menyimak.
Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau pun melalui rekaman, radio atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi bunyinya. Pengelompokannya menjadi suku kata, kata, frasa dan klausa, kalimat dan wacana. Lagu dan intonasi yang menyertai ucapan pembicarapun turut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa yang diterima kemudian diinterpretasikan maknanya, ditelaah kebenarannya atau dinilai lalu diambil keputusan menerima atau menolaknya.
Keberhasilan menyimak sangat bergantung pada kemampuan mengintegrasikan komponen-komponen di atas. Oleh karena itu, keterampilan menyimak dapat diartikan sebagai koordinasi komponen-komponen keterampilan, baik keterampilan mempersepsi, menganalisis, maupun menyintesis.








Pengertian keterampilan menyimak tampak lebih jelas dalam skema di bawah ini.


Keterampilan Mempersepsi Keterampilan Menganalisis Keterampilan Menyintesis

Membedakan bunyi bahasa Mengidentifikasi satuan Menghubungkan penanda
Mengenali kata gramatikal bahasa dengan penanda
Mengidentifikasi satuan lainnya
pragmatis Memanfaatkan latar
belakang pengetahuan



KETERAMPILAN MENYIMAK

Seseorang yang memiliki kemampuan menyimak yang baik tidak selalu mampu memahami apa yang disimak. Oleh karena itu, untuk memahami pesan yang disampaikan oleh pembicara, ada beberapa aksi yang perlu dilakukan dalam setiap situasi menyimak. Aksi yang ditampilkan oleh penyimak merupakan proses kognitif atau mental sehingga tidak mungkin ditinjau atau diamati secara langsung. Guru hanya bisa melihat efek dari aksi ini. Aksi terpenting untuk kesuksesan menyimak adalah proses pembuatan keputusan.
Penyimak harus membuat beberapa keputusan, seperti:
• Jenis situasi menyimak apa saja yang dimunculkan?
• Rencana apa yang disusun untuk menyimak?
• Kata-kata dan satuan-satuan makna apa saja yang penting untuk disimak?
• Apakah pesan yang disampaikan masuk akal?
Jika merujuk pada pertanyaan-pertanyaan di atas, menyimak diartikan sebagai proses berpikir - berpikir tentang makna. Penyimak yang efektif mengembangkan cara berpikir tentang makna pada saat ia menyimak. Cara penyimak membuat keputusan disebut strategi menyimak (Rost, 1991: 4).

DRAMA
Aminuddin (2003) menyebutkan bahwa istilah “drama” semula berasal dari Yunani “draomai” yang berarti berbuat, bertindak, atau bereaksi. Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas. Drama adalah bentuk karya sastra yang bertujuan menggambarkan kehidupan dengan menyampaikan pertikaian dan emosi melalui lakuan atau dialog. Lakuan dan dialog dalam drama tidak jauh beda dengan lakuan serta dialog yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai karya seni yang harus ditonton, drama sangat mengutamakan unsur tingkah laku konkret para tokohnya dan lawan kata atau dialog. Dengan melihat drama, penonton seolah-olah melihat kahidupan dan kejadian dalam masyarakat. Hal ini karena drama merupakan potret kehidupan manusia, yang suka dan duka, konflik, dan aneka kehidupan lainnya yang memang penuh warna (Suharianto: 2005).
Drama adalah bentuk karya sastra yang tersusun atas unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Yang termasuk unsur intrinsik seperti, peristiwa, cerita atau lakon, plot atau alur, tokoh tokoh, tema, latar, sudut pandang penceritaan, bahasa atau gaya bahasa, dan lain-lain. Yang termasuk unsur intrinsik drama, antara lain tokoh, pemain, dialog, latar, alur atau plot, dan penonton atau publik.
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau, secara lebih khusus ia dapat dikatakan sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Walau demikian, unsur ekstrinsik cukup berpengaruh terhadap totalitas cerita yang dihasilkan. Unsur yang dimaksud adalah sosial budaya, politik, dan hankam (Zainuddin, 1991).

MEDIA AUDIO-VISUAL (VCD)
Akhmad Sudrajat dalam media pembelajaran, menjelaskan bahwa media berasal dari bahasa latin merupakan bentuk jamak dari “medium” yang secara harfiah berarti “perantara” atau “pengantar” yaitu perantara atau pengantar sumber pesan dengan penerima pesan. Beberapa ahli memberikan definisi tentang media pembelajaran. Schramm (1977) mengemukakan bahwa media pembelajaran adalah teknologi pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. Sementara itu, Briggs (1977) berpendapat bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/materi pembelajaran seperti: buku, film, video dan sebagainya. Sedangkan, National Education Associaton (1969) mengungkapkan bahwa media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar, termasuk teknologi perangkat keras. Dari ketiga pendapat di atas disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, dapat merangsang fikiran, perasaan, dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik
Media pembelajaran apa pun yang digunakan pada prinsipnya harus dapat meningkatkan efektifitas dan kelancaran proses belajar mengajar terutama dalam memperjelas materi yang dipelajari sehingga memudahkan terjadinya proses belajar / perubahan tingkah laku pada diri siswa.
Wijaya Kusumah (2007) menyebutkan ada beberapa faktor penting yang perlu diperhitungkan dalam memilih alat bantu pembelajaran / media yaitu:
1. Wawasan dan kemampuan guru
2. Tujuan belajar yang ingin dicapai sesuai Kompetensi Dasar dan Standar Kompetensi yang akan dicapai
3. Fasilitas yang tersedia
4. Sederhana dan mudah dimengerti
5. Dapat memotivasi siswa
6. Menggunakan bahan yang mudah didapat
7. Dapat menggantikan objek yang sesungguhnya
8. Menarik perhatian
Beberapa manfaat media pembelajaran dalam proses belajar mengajar antara lain:
1. Media pengajaran dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar.
2. Media pengajaran dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar.
3. Media pengajaran dapat mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu. :
a) objek / benda yang terlalu besar untuk ditampilkan dapat diganti dengan gambar, foto,slide, film atau model.
b) objek atau benda yang terlalu kecil yang tak tampak bisa disajikan dengan bantuan mikroskop, film,slide, gambar.
c) Kejadian langka yang terjadi di masa lampau dapat ditampilkan melalui rekaman video,film,foto, slide.
d) Objek atau proses yang amat rumit dapat ditampilkan secara konkret melalui film,gambar, slide, atau simulasi computer.
e) Kejadian atau percobaan yang dapat membahayakan dapat disimulasikan dalam computer,film,video.
f) Peristiwa alam seperti terjadinya letusan gunung berapi atau proses yang dalam kenyataanya dapat memakan waktu lama dapat disajikan dalam teknik rekaman seperti time elapse untuk film, video, slide atau simulasi komputer.
Media pengajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungan sekitar melalui kegiatan karya wisata, kunjungan ke museum, ke kebun binatang dll.
Penggolongan media secara umum dapat dilihat dari kemampuannya dalam membangkitkan rangsangan indra salah satunya adalah media audio-visual.
Yadissetya (2007) mengemukakan bahwa media audio-visual yaitu alat bantu mengajar yang mempunyai bentuk gambar dan mengeluarkan suara secara simultan. Dengan media audio visual ini seseorang tidak hanya dapat melihat tetapi sekaligus dapat mendengar sehingga dikenal dengan istilah audio visual aids (AVA) atau alat pandang dengar. Termasuk dalam media ini adalah film cerita, video, televisi, laser disc, compact disc video, dan computer multimedia.
Media audiovisual adalah media instruksional modern yang sesuai dengan perkembangan zaman yang meliputi media yang dapat dilihat, didengar, dan yang dapat dilihat serta didengar (Rohani, 1997:97-98).
Menurut Azhar Arsyad (2002:94) dalam media visual yang menggabungkan penggunaan suara memerlukan pekerjaan tambahan untuk memproduksinya. Salah satu pekerjaan penting yang diperlukan dalam media audio-visual adalah penulisan naskah dan storyboard yang memerlukan persiapan yang banyak, rancangan, dan penelitian.
Media audio visual yaitu alat bantu mengajar yang mempunyai bentuk gambar dan mengeluarkan suara secara simultan. Dengan media audio-visual ini seseorang tidak hanya dapat melihat tetapi sekaligus dapat mendengar sehingga dikenal dengan istilah audio visual aids (AVA) atau alat pandang dengar. Termasuk dalam media ini adalah film cerita, video, televisi, laser disc, compact disc video, dan computer multimedia.
Beberapa persoalan media yang dihadapi para guru di sekolah – sekolah adalah minimnya media untuk pembelajaran mendengarkan. Selama ini untuk pembelajaran mendengarkan langkah pembelajaran yang biasanya dilakukan guru adalah membacakan teks berita di depan kelas, siswa menyimak, kemudian guru memberikan pertanyaan seputar isi teks bacaan tersebut. Pada langkah yang lebih maju , biasanya guru merekam pembacaannya di pita kaset dan pada saat pembelajaran di kelas guru memutarkan hasil rekamannya menggunakan tape recorder.
Dalam pembelajaran mendengarkan penggunaan VCD sebagai media pembelajaran sangat menguntungkan. Akan tetapi , lembaga yang bersedia membuat media pembelajaran dalam bentuk Program VCD / video pendidikan untuk sekolah-sekolah sangatlah jarang. Barangkali karena pembuatan VCD Pendidikan kurang memberikan keuntungan materiel dibanding membuat video komersial seperti film dan lagu-lagu maka jarang ada lembaga yang mau membuat video pendidikan ini.
Nilai plus penggunaan VCD pembelajaran penggunaan VCD pada pembelajaran mendengarkan tentunya memberikan nilai plus ( nilai tambah ) . Beberapa nilai plus dalam proses belajar mengajar antara lain :
1. Penggunaan VCD dapat memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar
2. Media pengajaran ini dapat meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.
3. Penggunaan VCD dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
4. Mengingat materi yang bisa disajikan dalam VCD pembelajaran ini sangat variatif baik masalah sosial, ekonomi, politik, dan budaya di Indonesia , maka akan menambah khasanah pengetahuan siswa dalam bidang-bidang tersebut, yang pada akhirnya akan mempertebal semangat nasionalisme dan kecintaan pada tanah air.
PEMBELAJARAN MENYIMAK DRAMA MENGGUNAKAN MEDIA AUDIOVISUAL (VCD)
Dalam pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya menyimak, perlu adanya upaya-upaya dari guru agar pembelajaran dapat berlangsung dengan efektif. Ukuran efektifitas proses pembelajaran Bahasa Indonesia adalah pada hasil yang dicapai berupa keterampilan siswa dalam mneyimak Bahasa Indonesia.
Standar kompetensi pada pembelajaran menyimak diharapkan siswa mampu mendengarkan dan memahami serta menanggapi berbagai ragam lisan. Salah satunya adalah mampu mengungkapkan dan merefleksi pementasan drama.
Keterampilan menyimak merupakan suatu keterampilan yang tidak datang dengan sendirinya. Dalam kegiatan belajar-mengajar, tugas guru adalah membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran, mengelola kelas dalam kegiatan mengajar agar pembelajaran dengan kurikulum Teknologi satuan pendidikan dapat tercapai.
Penggunaan media pembelajaran tidak disebut secara eksplisit dalam Kurikulum KTSP . Hal ini memberi gambaran bahwa penggunaan media bersifat terbuka. Jadi pengajar dipersilakan memilih, merencanakan dan menggunakan media pembelajaran yang diinginkan asalkan sesuai dengan kondisi lingkungan belajar. Selain itu perlu dipertimbangkan pencapaian tujuan dan butir pembelajaran atau standar kompetensi yang telah ditetapkan.
Dalam usaha meningkatkan hasil pembelajaran menyimak, peranan media sangat penting dalam membantu kelancaran, efektifitas, dan efisiensi dalam mencapai tujuan.
Dalam pembelajaran menyimak drama melalui VCD guru memberikan penjelasan tentang materi menyimak dan pementasan drama melalui media audio-visual khususnya VCD, kemudian siswa diperlihatkan pementasan drama. Guru memperhatikan sikap siswa yang tidak tepat. Setelah selesai menyimak drama, siswa melakukan refleksi terhadap pementasan drama. Kemudian siswa mengungkapkan hasil refleksi pementasan drama melalui kegiatan berkelompok. Setiap kelompok membacakan hasilnya dan memberikan tanggaan terhadap kelompok yang membacakan hasil kerjanya tersebut.
Pembelajaran menggunakan media audiovisual (VCD) sangat membantu siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Penggunaan media ini dapat memotivasi siswa dalam merefleksi pementasan drama yang ditontonnya melalui VCD.





PENUTUP
Dalam usaha meningkatkan hasil pembelajaran menyimak, peranan media sangat penting dalam membantu kelancaran, efektifitas, dan efisiensi dalam mencapai tujuan.
Dalam pembelajaran menyimak drama melalui VCD guru memberikan penjelasan tentang materi menyimak dan pementasan drama melalui media audio-visual khususnya VCD, kemudian siswa diperlihatkan pementasan drama. Guru memperhatikan sikap siswa yang tidak tepat. Setelah selesai menyimak drama, siswa melakukan refleksi terhadap pementasan drama. Kemudian siswa mengungkapkan hasil refleksi pementasan drama melalui kegiatan berkelompok. Setiap kelompok membacakan hasilnya dan memberikan tanggaan terhadap kelompok yang membacakan hasil kerjanya tersebut.
Dalam proses belajar-mengajar hendaknya guru menggunakan media, karena agar siswa tidak bosan dengan materi yang disampaikan oleh guru. Salah satunya adalah pembelajaran menyimak drama melalui media audio-visual (VCD) yang dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam aspek menyimak dan mengarahkan perhatian siswa sehingga pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.












DAFTAR PUSTAKA

Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

http://akhmadsudrajat.media pembelajaran.com.

http://gumawangcity.blogspot.com/2007.hakikat menyimak.

http://martiningsih.blogspot.com/2007/10/penelitian-tentang-manfaat-tve.html)

http://www.blogger.com/feeds/2754832685471863545/posts/default.

http://www.ialf.edu/kipbipa/abstracts/erizalgani.htm

http://wijayalabs.blogspot.2007.com.

http://yadissetya.wordpress.com/2007/11/11/pembuatan-vcdsolusi-permasalahan-pembelajaran-mendengarkan-di-sekolah/#comment-2
Rahmina, Iim. Listening in Action: Upaya Meningkatkan Kemampuan Menyimak Pembelajar BIPA. Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.

Roekhan, Aminuddin. 2003. Apresiasi Drama. Depdiknas.

Rost, M. (1991). Listening in Action: Activities for Developing Listening in Language Teaching. New York: Prentice Hall.

Suharianto, S. 2005. Dasar-dasar Teori Sastra. Semarang: Rumah Indonesia.

Tarigan, Guntur. 1993. Menyimak. Bandung: Angkasa.

Welek, Rene, dan Austin Warre diterjemahkan Melani Budianta. Teori Kesusastraan. 1995. Jakarta: Gramedia.

Zainuddin. 1991. Materi Pokok Bahasa dan Sastra Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar